oleh

Arcandra Tahar Buka Alasan Harga Batu Bara dan Gas Bumi Naik

Jakarta, PosKita.id – Eks Wakil Menteri BUMN Arcandra Tahar mengungkap sejumlah alasan penyebab harga batu bara dan gas bumi melonjak tajam. Kenaikan inilah yang menyebabkan krisis energi di Eropa hingga China dalam sebulan terakhir.

“Harapan akan terkendalinya pandemi Covid-19 pada 2021 telah menimbulkan optimisme para pelaku ekonomi untuk mulai berinvestasi dan beraktivitas. Hal ini mengakibatkan kebutuhan energi menjadi lebih tinggi,” kata Arcandra dalam unggahan di Instagram, Selasa (5/10).

Namun, meningkatnya permintaan energi tidak dapat diimbangi dengan energi terbarukan yang hanya dimiliki Eropa sebesar 26 persen.

Dia pun memaparkan banyaknya turbin pembangkit listrik tenaga angin yang berhenti beroperasi akibat masuk dalam tahap perawatan. Hal ini membuat para pelaku bisnis pun mencari alternatif energi yang mampu menjalankan usahanya dengan cepat.

Akhirnya, batu bara dipilih menjadi sumber energi dengan alasan murah dan tidak sulit mengoperasikannya. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya perang dagang China-Australia yang mengakibatkan terhambatnya pasokan batu bara.

Sehingga harga komoditas batu bara meningkat tajam hingga US$189 per ton. Tidak sampai disitu, gas bumi turut terkerek naik hingga US$20 per MMBTU. Ini disebabkan permintaan listrik yang tinggi dan mahalnya harga batu bara untuk membangkitkan listrik.

Dia mengungkap gas bumi juga turut dimanfaatkan masyarakat Eropa untuk memanaskan ruangan selama musim gugur hingga musim dingin.

Sejak investasi energi fosil dibatasi, produksi gas dari lapangan offshore pun semakin berkurang. Ditambah dengan proyek pipa gas Nord Stream 2 antara Rusia dan Jerman belum rampung dikerjakan.

Akhirnya Eropa terpaksa mengimpor gas bumi berbentuk cair (LNG) dengan harga yang tinggi. Dengan harga batu bara dan gas bumi yang meningkat tajam, usaha dan rumah tangga semakin tercekik untuk mendapat akses listrik.

Arcandra pun memberi masukan agar dalam mengambil keputusan terkait energi fosil dan energi terbarukan harus dilakukan dengan strategi yang tepat, bukan dengan emosional.

Ia menilai sejumlah langkah tengah dilakukan Eropa untuk menanggulangi krisis ini. Di antaranya mengembalikan profit perusahaan listrik ke konsumen, mengurangi 90 persen PPN, membatasi harga gas, menambah anggaran subsidi, hingga realokasi anggaran energi terbarukan ke pengurangan pajak.

Sumber : CNN Indonesia

Komentar

Berita Terbaru Lainnya