Medan, Poskita.id – Konsorsium PERMAMPU bersama jaringannya memperingati Hari Perempuan Sedunia secara hybrid yang dihadiri oleh 312 orang (302 Perempuan & 10 laki-laki) perwakilan anggota PERMAMPU dan jaringan dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, Sabtu (7/3/2026).
Tema yang diangkat adalah “Berbagi dan Belajar Bersama – Pengalaman dan Penelitian Aksi Kepemimpinan Perempuan dalam Penanganan Bencana untuk Pemenuhan Hak Perempuan Marginal dan Keadilan Gender.”
Pada kesempatan ini, Ela Hasanah mewakili INKLUSI memberi sambutannya dengan menekankan pentingnya pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan di dalam penanganan bencana. Partisipasi perempuan menjadi kunci dalam menyelenggarakan penangan bencana yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam peringatan IWD kali ini, PERMAMPU menyoroti bahwa akibat bencana seringkali berdampak berat dan berlapis bagi perempuan dan kelompok rentan: lansia, disabilitas, ibu hamil & menyusui, perempuan dan keluarga dari suku/agama minoritas.
Sayangnya bentuk respon pemerintah maupun dukungan relawan sering seragam, kurang memenuhi standar minimal humanitarian (SPHERE Standar), dan lebih fokus pada rehabilitasi infrastruktur fisik.
Pada bencana kali ini, Konsorsium PERMAMPU menyajikan upaya yang lebih responsif terhadap penyintas perempuan dan kelompok rentan lainnya melalui penyediaan data terpilah, menjangkau kelompok rentan, memberi bantuan kebutuhan spesifik dan strategis yang menyentuh aspek pemulihan trauma.
Dalam situasi bencana, cukup banyak narasi yang cenderung memosisikan perempuan hanya sebagai seorang korban yang perlu dibantu, padahal dalam situasi bencana perempuan mampu menunjukkan kepemimpinannya.
Perempuan Akar Rumput dampingan dari Anggota Konsorsium PERMAMPU (Flower Aceh, PESADA, LP2M) menunjukkan solidaritas dan semangat kerelawanan.
Mereka turut melakukan respon tanggap darurat mulai dari mengumpulkan data terpilah,menyalurkan bantuan, saling menguatkan dalam persaudarian serta mengadvokasi pemerintah agar responsif dalam menangani bencana.
Nurbaeti yang adalah staf lapang Flower Aceh sekaligus korban di Aceh Tamiang, menceritakan bagaimana ia berjuang menyelamatkan anak kembarnya dan orang tuanya dari amukan banjir, sementara dia terpisah dari suami karena bencana.
Ia mengalami trauma dan rumahnya rusak, harta benda habis tetapi ia berusaha bangkit untuk membantu membuka dapur umum dan menyalurkan bantuan untuk warga di desanya. Dan di sela semua kegiatan itu, Nurbaeti menyatakan, betapa hati bisa terpulihkan karena masih mampu untuk membantu, berbagi bahkan mengurus yang membutuhkan.








