Dalam ketakutan itu, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan: Tuhan, ajari aku untuk ikhlas. Kuatkan aku, Tuhan, dan berikan aku kesehatan.
Dan dalam satu malam, segalanya lenyap. Rumah, harta benda, kebun durian, kebun karet, dan mata pencaharian kami hilang tersapu banjir. Bencana ini adalah sesuatu yang tidak pernah kami sangka akan terjadi, dan luka batinnya masih saya rasakan sampai sekarang.
Kesedihan saya bertambah karena abang ipar saya, yang merupakan disabilitas mental, tidak sempat dievakuasi saat kami menyelamatkan diri. Perasaan bersalah dan sedih itu masih saya rasakan hingga sekarang”.
• Felmi Yetti, ( Direktur LP2M SUMBAR)
Ia menceritakan pengalamannya saat di perjalanan Padang ke Bukittinggi melihat peristiwa banjir bandang yang mulai membawa gelondongan kayu dan tanah dari arah bukit di tempat tinggalnya. Banyak pohon tumbang. Tanpa ada peringatan, longsor besar terjadi dari atas bukit. “Banyak korban terbawa dan hanyut di situ, termasuk warga lokal,” ujarnya.
• Riswati (Direktur Flower Aceh)
Riwati menyebutkan di Aceh banjir turut melumpuhkan infrastruktur dan jaringan komunikasi, bahkan sampai ke Banda Aceh di mana listrik mati, BBM sangat terbatas, internet lelet. Ia mengkhawatirkan kondisi stafnya di Aceh Tamiang yang tak dapat dihubungi selama beberapa hari, juga pendiri lembaga yang lebih dari seminggu tidak terdengar khabarnya, serta staf lembaga yang kebanjiran di Lhokseumawe . “Banyak wilayah tak bisa diakses, infrastruktur lumpuh, listrik padam dan air bersih tidak ada” ujarnya.
• Marini, staf PESADA Langkat
Marini menceritakan bahwa malam itu saat banjir yang sudah hampir mencapai leher di Langkat, mereka melewatinya tanpa kepastian di sebuah rumah bertingkat. Di lantai dua itu, sekitar 45 orang berkumpul—Ibu, bapak dan orang tua, ibu hamil, dan anak-anak—menunggu apakah bantuan akan datang. Listrik padam. Tidak ada petugas yang datang untuk memberikan arahan.
“Baik itu dari Koramil yang lewat, yang malah hanya menyuruh kami bertahan, sedangkan dari sisi logistik juga kami tidak mendapatkan bantuan. Ketika akhirnya setelah 2 hari lebih ada perahu karet datang, mereka tidak mau membawa kami dengan alasan, yang memesan perahu karet bukan kami. Kami merasa adanya diskriminasi, tebang pilih; siapa punya uang bisa memesan perahu, dan kami yang tidak berpunya, ditinggalkan,” tutur Marini.
Pengalaman di atas mencerminkan perasaan takut, duka mendalam, dan kekhawatiran akan masa depan, sekaligus prinsip resilien untuk bertahan dan membangun kembali.
Perempuan dan kelompok marginal seringkali menunjukkan kekuatan luar biasa dalam menghadapi krisis, menjadi pengasuh utama, pencari nafkah darurat, dan penjaga komunitas.
Perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas sering menjadi korban berganda dalam bencana semacam ini. Mereka tidak hanya menghadapi kerugian fisik, tetapi juga beban psikososial yang lebih berat: kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, akses air bersih, serta kebutuhan kesehatan reproduksi yang sering terabaikan di pengungsian.
Pengalaman lapang dari anggota seperti Flower Aceh, PESADA Sumatera Utara, dan LP2M Sumatera Barat menunjukkan bahwa perempuan kerap menjadi penopang utama keluarga di saat krisis, meski mereka sendiri rentan terhadap trauma mendalam.
Mendengar semua cerita perempuan dampingan, Konsorsium PERMAMPU menekankan kembali pentingnya pendampingan untuk resiliensi perempuan dan kelompok rentan sebagai kunci pemulihan dan pencegahan bencana di masa depan.
Gerakan dari para kader telah dimulai sebagai upaya awal dalam tanggap darurat di lapangan, Konsorsium PERMAMPU melalui anggotanya telah melakukan upaya khusus untuk memastikan staf, kader dan anggota dampingan dari Flower Aceh, PESADA, dan LP2M aman dan mengetahui kondisi mereka.
Konsorsium PERMAMPU juga melakukan asesmen cepat berperspektif GEDSI, membuka layanan aduan korban kekerasan di pengungsian, kelompok Credit Union menyalurkan bantuan pangan kepada anggota CU dan keluarga dan warga sekitar yang terdampak banjir, dan menggalang dana di internal dan eksternal.
Di atas semua itu, para personel dan relawan secara bergantian hadir di area bencana untuk mendengar kisah kesedihan, kehilangan, dan trauma yang mereka alami; melakukan pemeriksaan kesehatan dan berjanji untuk selalu hadir dan mengupayakan segala kebutuhan terutama kebutuhan spesifik dan strategi perempuan dan kelompok marginal.
Oleh karena itu Konsorsium PERMAMPU dalam Perayaan Hari Pergerakan Perempuan Indonesia 22 Desember 2025 yang dihadiri oleh dampingan Konsorsium PERMAMPU dari FKPAR, Credit Union/CU, Keluarga Pembaharu, Femokrat, Media dan jaringan NGOs, disabilitas dan lansia yang seluruhnya berjumlah 180 peserta (176 perempuan dan 4 laki-laki) berkomitmen untuk:
- Melanjutkan respon tanggap darurat dengan memberikan dukungan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan dan kelompok rentan dalam respons bencana, khususnya dukungan psikososial, akses hygiene kit, dan pelayanan kesehatan reproduksi.
- Penguatan resiliensi berbasis GEDSI melalui keluarga pembaharu, meningkatkan akses HKSR paska bencana melalui layanan kader di Pusat Layanan dan Pembelajaran HKSR/OSS&L, pendampingan perempuan korban kekerasan dan kampanye pencegahan perkawinan anak yang dikhawatirkan meningkat paska bencana.
- Meningkatkan partisipasi perempuan akar rumput dan kelompok marginal dalam mengadvokasi upaya pengurangan resiko bencana jangka panjang melalui pendidikan kritis pentingnya menjaga tanah, air dan hutan sebagai ruang hidup dan mata pencaharian berkelanjutan, serta menyadarkan publik tentang dampak perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
- Mitigasi bencana menjadi kegiatan yang akan dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan keamanan dan resiliensi seluruh dampingan PERMAMPU yang berada di area cincin api, deforestrasi dan pengaruh perubahan iklim maupun siklon tropis yang mungkin melanda Sumatera.
- Secara khusus Konsorsium PERMAMPU akan memonitor proses relokasi korban yang sesuai dengan kebutuhan korban yang pada umumnya datang dair kelompok marginal yang rentan mengalami pemiskinan berlapis melalui upa advokasi ketersediaan lahan pertanian serta kompensasi lainnya yang selayaknya diterima oleh warga yang tertimpa bencana.
Di akhir tahun ini, kami mengajak semua pihak—pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas—untuk bersama membangun Sumatera yang lebih tangguh, dimana suara dan resiliensi perempuan menjadi pusat pemulihan dan transformasi paska bencana.







