Dari Akar Rumput Ke Panggung Kekuasaan: Jejak Widia Ningsih Menuju Nahkoda PKB Lahat

Lahat, Poskita.id— Di balik sorotan politik yang kian terang menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) DPC PKB Lahat, ada satu sisi yang jarang disorot: perjalanan panjang, sunyi, dan penuh liku dari seorang Widia Ningsih

Ia hari ini dikenal sebagai Wakil Bupati Lahat. Tegas, terukur, dan terbiasa berada di lingkar kekuasaan. Namun jalan menuju titik itu bukan jalan pintas—melainkan jejak panjang yang ditempa dari bawah, dari ruang-ruang yang jauh dari sorotan.

Widia bukan lahir sebagai “nama besar” dalam politik. Ia tumbuh sebagai figur yang perlahan membangun dirinya—mengenal masyarakat, menyerap persoalan, dan menempatkan diri bukan sekadar sebagai politisi, tetapi sebagai bagian dari mereka yang diperjuangkan.

Dalam setiap fase kariernya, satu hal yang konsisten: kedekatan dengan akar rumput.

Ia tidak sekadar hadir saat momentum politik, tetapi juga di sela kehidupan sehari-hari masyarakat—di pertemuan sederhana, dalam diskusi kecil, hingga mendengar langsung keluhan yang kerap luput dari meja kebijakan.

“Politik itu bukan soal jabatan. Kalau tidak dekat dengan masyarakat, semua akan kosong,” begitu prinsip yang kerap ia pegang.

Perjalanan politiknya pun tidak selalu mulus. Keputusan hijrah dari Partai Perindo ke PKB menjadi salah satu titik penting—bukan hanya langkah politik, tetapi juga pilihan emosional.

Di situlah Widia menemukan ruang yang ia sebut “lebih sejalan”—dengan basis Nahdlatul Ulama (NU), dengan kultur, dan dengan cara pandang politik yang lebih membumi.

Namun perpindahan itu tidak dibingkai sebagai konflik.

Ia tetap menjaga relasi, merawat komunikasi, dan menunjukkan bahwa politik baginya bukan soal memutus, melainkan memilih jalan yang diyakini paling tepat.

Kini, saat namanya menguat sebagai kandidat Ketua DPC PKB Lahat, publik tidak hanya melihat jabatan yang ia sandang, tetapi juga perjalanan yang ia tempuh.

Di tengah kandidat lain yang kuat secara struktural, Widia hadir dengan kombinasi berbeda: pengalaman eksekutif, jejaring politik lintas level, dan—yang paling penting—kedekatan emosional dengan masyarakat.

Ia tidak bicara besar tentang kekuasaan. Justru ia memulai dari hal yang paling mendasar: membangun partai dari bawah.

Mulai dari konsolidasi kader, komunikasi dengan PAC, hingga menyusun peta kekuatan menuju Pemilu 2029—semua ia siapkan dengan pendekatan yang sistematis, tapi tetap membumi.

Bagi Widia, partai bukan sekadar kendaraan politik. Ia adalah rumah perjuangan.

Dan mungkin di situlah letak alasan mengapa namanya kini menguat.

Karena di tengah politik yang sering terasa jauh dari rakyat, Widia justru datang membawa cerita yang dekat—tentang proses, tentang ketekunan, dan tentang keyakinan bahwa kekuatan besar selalu lahir dari bawah.

Muscab PKB Lahat nanti bukan hanya soal siapa yang terpilih.

Tetapi tentang siapa yang paling memahami arti perjalanan.

Dan dalam narasi itu, Widia Ningsih tidak sekadar ikut bertarung—ia membawa kisah yang membuatnya layak diperhitungkan, bahkan untuk memimpin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *