Palembang, Poskita.id – Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bersama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar sosialisasi ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference (ASEAN IIDC) 2023. Event strategis ini akan menjadi salah satu terobosan penting Indonesia dalam menciptakan perdamaian, harmoni dan stabilitas kawasan ASEAN dan global, di mana agama mengambil peran yang penting dan signifikan.
Sosialisasi R20 menuju ASEAN IIDC 2023 untuk wilayah Indonesia Barat diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Bandara Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan, Senin (10/07/2023). Adapun peserta kegiatan tersebut berasal dari berbagai ormas lintas agama yang berasal dari berbagai Provinsi di Indonesia bagian barat.
Dalam paparannya, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berbicara soal sejarah Indonesia yang dulu bernama Nusantara. Dulu Nusantara pernah memberikan sumbangsih mengagumkan lewat nilai toleransi dan harmoni yang ditawarkan oleh sejumlah kerajaan. Hal itu bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama.
“Kerajaan Sriwijaya bisa bertahan hingga 7 abad lamanya dan mempersatukan seluruh Nusantara dalam jaringan perdagangan dengan tetap menoleransi perbedaan politik,” kata Gus Yahya, Senin (10/07/2023).
Gus Yahya menyebut Kerajaan Sriwijaya tercatat pernah mempersatukan Nusantara di dalam satu jaringan perdagangan internasional dengan tetap mempertahankan format-format politik di pulau-pulau yang ada di Nusantara ini.
Kerajaan Sriwijaya, lanjut Gus Yahya, bersendi ajaran dan nilai filosofis Budha dan berada di Sumatera Selatan. Kerajaan ini bertahan selama kurang lebih tujuh abad, mulai abad ke-7 hingga 14 masehi.
Menurut Gus Yahya, Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan besar yang mengandalkan kekuatan maritim yang hegemonik di Nusantara. Kedudukannya di tepian Sungai Musi, Palembang sangat strategis dan sangat menentukan.
Gus Yahya menambahkan, bangsa Indonesia lewat kerajaan Majapahit juga pernah mempunyai warisan yang demikian luhur yakni Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Bahwa dengan semboyan ini, Majapahit lebih menghargai perbedaan dan bukan sebagai negara agama.







