Pasokan Melimpah, Sumsel Alami Deflasi pada Agustus 2025

Berita, Ekonomi364 Dilihat

Palembang, Poskita.id – Provinsi Sumatera Selatan pada Agustus 2025 mencatatkan deflasi sebesar 0,04% (mtm), setelah pada periode sebelumnya mengalami inflasi 0,14% (mtm).

Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 2,88% (yoy). Capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%.

Deflasi yang terjadi di Sumatera Selatan terutama didorong oleh turunnya harga komoditas pangan strategis. Komoditas pangan yang menjadi penyumbang deflasi di Sumatera Selatan yakni daging ayam ras, tomat, cabai rawit, bawang putih, dan beras dengan andil berturut-turut adalah sebesar 0,06% (mtm), 0,06% (mtm), 0,05% (mtm), 0,02% (mtm), dan 0,02% (mtm).

Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar seiring melimpahnya pasokan yang belum sepenuhnya terserap masyarakat. Sejalan dengan itu, pasokan tomat dan cabai rawit juga tercatat cukup tinggi seiring inflow panen dari daerah sentra.

Di sisi lain, harga bawang putih terkoreksi mengikuti penurunan harga impor dari China, sementara dimulainya panen gadu padi serta penyaluran beras SPHP Bulog turut menekan harga beras di pasaran. Selain faktor pangan, deflasi juga didorong oleh penurunan tarif angkutan udara akibat beragam promo maskapai dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-80. Kombinasi faktor tersebut menjadi penopang utama deflasi Sumatera Selatan pada periode laporan.

Secara spasial, deflasi tercatat terjadi di dua kabupaten/kota IHK di Sumatera Selatan, yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir sebesar -0,11% (mtm) dan Kota Palembang sebesar -0,07% (mtm).

Sementara itu, dua daerah IHK lainnya mengalami inflasi, yaitu Kabupaten Muara Enim sebesar 0,22% (mtm) dan Kota Lubuk Linggau sebesar 0,07% (mtm). Ke depan, tekanan deflasi diperkirakan masih berlanjut namun tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.

Hal ini didukung oleh panen gadu padi yang masih berlangsung hingga September dan semakin gencarnya distribusi beras SPHP Bulog yang menambah pasokan beras di pasar. Pasokan hortikultura juga diperkirakan masih relatif melimpah.

Meski demikian, terdapat potensi tekanan inflasi dari sisi permintaan seiring perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Maulid Nabi Muhammad SAW pada awal September yang bertepatan dengan long weekend, berpotensi mendorong kenaikan tarif angkutan darat dan udara serta peningkatan konsumsi masyarakat.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel terus memperkuat koordinasi dan sinergi dalam menjalankan strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga (K1), ketersediaan pasokan (K2), kelancaran distribusi (K3), dan komunikasi yang efektif (K4).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *