Siapa yang ditunggu?
Atau… siapa yang sedang dilindungi?
Rumah sakit bukan proyek sembarangan. RSUD Lahat adalah tempat rakyat kecil menggantungkan harapan hidup. Jika alkesnya bermasalah, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka di laporan keuangan—tapi keselamatan pasien.
Pemerhati pemerintahan Kabupaten Lahat, Dedi Firmansyah, angkat suara dengan nada tajam.
“Rakyat masih percaya pada kejaksaan. Tapi jangan main api. Kalau sampai ada kongkalikong, ledakannya bisa ke mana-mana.”
Peringatan itu bukan isapan jempol. Di tengah ekonomi yang menghimpit, kemarahan publik terhadap korupsi tak lagi bisa dibendung dengan pernyataan formalitas. Masyarakat sudah terlalu sering menyaksikan kasus besar menguap tanpa jejak.
Jika perkara ini benar sudah “terang benderang”, seharusnya tak ada ruang untuk tarik-ulur. Hukum tidak boleh tampil galak ke bawah tapi melempem ke atas. Jangan sampai Rp28 miliar hanya jadi angka sensasional di pemberitaan, lalu perlahan tenggelam dalam kubangan birokrasi.
Kini sorotan tertuju pada Kejaksaan Negeri Lahat. Akankah kasus ini dibongkar sampai ke akar, tanpa pandang bulu?
Ataukah publik kembali dipaksa menyaksikan drama lama: penyidikan panjang, hasil nihil?
Rakyat Lahat menunggu dengan mata terbuka. Kesabaran itu ada batasnya. Dan ketika batas itu terlewati, tak ada yang bisa mengendalikan gelombangnya.












