HUT RI-80: Menyoal Merdeka dan Kemerdekaan

Opini655 Dilihat

Oleh: Rusli Abdul Roni.

2025 merupakan rentang panjang perjalanan Indonesia menapak kemerdekaan sejak proklamasi 1945. Ini bermakna Delapan dekade sudah bangsa ini mengibarkan pusaka kebanggaan Sang Saka Merah Putih sebagai simbol kemerdekaan dari penjajahan dan kezaliman kuasa asing terhadap ibu pertiwi. Namun, di usia 80 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan mendasar yang wajib diajukan kembali adalah: apakah kita benar-benar telah merdeka? Dan lebih jauh: apa makna kemerdekaan dalam konteks kekinian bagi rakyat Indonesia? Adakah Dekolonisasi itu telah merealitas kehidupan rakyat dan bangsa?

Merdeka Antara Simbol dan Substansi

Hakikat dan lumrahnya sejak 1945 setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan penuh gegap gempita-upacara bendera, lomba-lomba rakyat, konser nasionalisme, dan pidato kenegaraan yang menggugah. Namun, kemeriahan simbolik ini sering kali hanya menjadi pengulangan rutinitas tahunan yang hampir kehilangan makna substantial bagi sebuah bangsa besar seperti Indonesia.

Oleh karena itu, seyogyanyalah kata “merdeka” yang dulu berarti lepas dari kolonialisme kini harus ditafsir ulang. Sebab penjajahan hari ini bukan lagi datang dalam bentuk konfrontasi persenjataan, invasi militer dan pencaplokan wilayah dengan kekerasan atau secara paksa oleh pihak asing, melainkan telah menjelma dalam bentuk ketimpangan sosial, ketergantungan ekonomi, polarisasi politik, dan krisis keadaban public dan lain-lain. Banyak warga masih “terjajah” oleh kemiskinan struktural, akses pendidikan yang timpang, dan kesenjangan digital yang melebar di tengah semangat transformasi teknologi dan informasi yang nyaris sukar dikawal.

Kemerdekaan Siapa dan untuk Siapa?

Adalah sebuah fenomena dan ironi yang tidak dapat dinafikan, bahawa di tengah gegap gempita perayaan, pekikan merdeka, tembakan salto, perbarisan paskibraka pengibaran sang saka merah putih, suara-suara dari pinggiran dan hujung negeri ini sering luput dari perhatian. Mulai dari hujung paling timur warga di pelosok Papua hingga hujung jauh Sumatera, dari pinggiran pesisir samudera India, Nusa Tenggara hingga perbatasan Kalimantan kerap kali hanya menjadi penonton dari narasi besar “Indonesia Maju” yang dikumandangkan dari pusat. Ketimpangan pembangunan masih menjadi luka lama yang belum benar-benar sembuh sesungguhnya.

Pastinya jika kemerdekaan adalah soal kedaulatan, maka kita mesti bertanya: apakah petani berdaulat atas tanahnya? Apakah nelayan bebas menangkap ikan di lautnya sendiri tanpa ancaman korporasi besar? Apakah rakyat bisa dengan aman menyuarakan kritik tanpa dibungkam dengan pasal karet? Jika jawabannya belum, maka kita belum sepenuhnya merdeka. Dekolonisasi yang didengungkan nampaknya masih perlu diteruskan hingga nikmat kemerdekaan benar-benar menjadi realitas nyata dalam kehidupan bangsa “Merdeka” ini.

Generasi Muda dan Merdeka yang Baru

Disisi lain, sememangnya generasi muda Indonesia juga dihadapkan dengan tantangan yang berbeda. Mereka lahir di era keterbukaan informasi, globalisasi, dan kecerdasan buatan. Namun ironisnya, banyak yang merasa kehilangan arah. Mereka disuguhi pilihan tanpa makna, dijejali konten tanpa substansi, dan dipaksa berkompetisi dalam sistem pendidikan dan pasar kerja yang tidak manusiawi, bahkan tidak jarang jauh dari tuntutan syar’i.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *