Bedah Buku “Sejarah Palembang Dalam Pantun” Hari ke 3 Rangkaian Peringatan Perang 5 Hari 5 Malam

PALEMBANG1000 Dilihat

PALEMBANG, POSKITA.ID – Hari ketiga rangkaian peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam di kota Palembang, yang difokuskan di Gedung Kesenian Palembang, diramaikan dengan bedah buku “Sejarah Palembang Dalam Pantun” karya Amanda Maida Lamhati (Fir Azwar). Rabu (3/1/2024).

Diskusi itu dipandu oleh Fir Azwar, bersama budayawan kota Palembang, Vebri Al Lintani, dan sejarawan kota Palembang, Kemas Ari Panji.

Acara ini dihadiri oleh Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH M Kn, yang didampingi oleh R.M. Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, seniman Palembang Heri Mastari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumsel Kristanto Januardi, guru, siswa SMA, seniman, dan budayawan kota Palembang.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH M Kn menyampaikan selamat atas berhasilnya bedah buku “Sejarah Palembang Dalam Pantun”.

“Jarang sekali ditemukan buku semacam ini yang begitu bagus, menggabungkan sejarah dan pantun sehingga kita dapat mempelajari sejarah melalui seni,” katanya.

SMB IV menekankan bahwa banyak orang menganggap sejarah harus dipelajari dalam bentuk murni, namun buku ini mengkolaborasikan seni dan budaya menjadi perpaduan yang luar biasa.

“Semoga orang-orang dapat mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan melalui seni ini dan mengapresiasinya. Semoga buku-buku berikutnya terkait seni dan sejarah juga dapat diterbitkan kembali,” ujarnya.

Buku yang telah dibuat di tahun 2023 itu, menurut Fir Azwar, terdiri dari 81 halaman yang mencakup kata sambutan, prolog, historiografi, dan biografi.

“Puisinya terdiri dari 12 fragmen dengan sekitar 150 bait pantun, membahas Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam. Serta masa sebelum Kerajaan Palembang, seperti Raden Fatah dan Ariodillah, semuanya dalam bentuk pantun bukan syair atau puisi,” jelasnya.

Kepala Sekolah SMAN 6 Palembang menjelaskan tujuan pembuatan buku ini adalah agar orang lebih tertarik untuk membaca sejarah dalam bentuk pantun.

“Karena pantun adalah bahasa yang cukup komunikatif di Palembang, belum ada buku yang menggabungkan sejarah dalam bentuk pantun seperti ini,” katanya.

Budayawan Palembang, Vebri Al Lintani, menilai tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan buku ini kepada masyarakat Palembang, terutama kepada siswa, pendidik, dan guru sejarah.

“Pendidikan sejarah lokal kurang ditekankan di sekolah-sekolah. Buku ini memperkenalkan sejarah lokal melalui pantun beserta penjelasannya oleh sejarawan Kemas Ari Panji dan ulasan saya sendiri,” jelasnya.

Mbah Gito, pemilik padepokan Joglo Klangenan di Yogyakarta yang hadir dalam acara tersebut, menyatakan dukungannya terhadap hubungan antara budaya Palembang dan budaya Yogyakarta.

“Kerjasama ini penting untuk melestarikan budaya agar tidak punah,” ungkapnya.

Sebelumnya, sekitar pukul 7 pagi, diadakan ziarah ke TMP Ksatria Seguntang yang dipimpin oleh Ketua Panitia Peringatan Vebri Al Lintani, dan Ketua DPP KOPZIPS, Muhamad Setiawan, S.H., M.H. Pada pukul 13.00, juga diadakan Lomba Menyanyi Lagu Perjuangan yang dipimpin oleh Rita Purnama Sari dan Dra. Linda.MM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *