Catahu 2025 Konsorsium PERMAMPU: Resiliensi Perempuan Akar Rumput & Kelompok Marginal Sumatera di Masa Bencana

Tetap Solider, Tangguh, Bergerak dan Bangkit Bersama

Berita, Daerah369 Dilihat

Palembang, Poskita.id – Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perempuan dan kelompok marginal di Pulau Sumatera. Koordinator Konsorsium PERMAMPU Dina Lumbantobing mengatakan bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 25 November hingga Desember 2025 telah merenggut 1090 jiwa nyawa, 186 hilang, dan 7 ribu orang luka-luka.

“Bencana banjir longsor yang disertai dengan material kayu gelondongan dari hutan telah menghancurkan ribuan rumah, memutus akses infrastruktur, dan memaksa sekitar 510.528 warga mengungsi,” kata dia.

Bahkan Aceh Timur, seperti di Kecamatan Indra Makmur misalnya dan Kota Sibolga/Tapanuli Tengah di SUMUT, maupun Batu Busuak di Padang, Sumatra Barat mengalami banjir susulan yang hampir membuat para korban putus asa. Banjir telah mengakibatkan jalan berubah menjadi sungai, rumah dan tanah pertanian lenyap, bahkan beberapa desa dinyatakan potensial hilang.

Peristiwa banjir bandang terparah kali ini diakibatkan oleh Siklon Tropis Senyar yang tak biasa terjadi dan diperparah oleh kerusakan hutan yang sangat massif akibat perambahan kayu hutan, pertambangan dan bahkan alih fungsi hutan ke perkebunan sawit.

Di lain pihak pemerintah tidak pernah serius membangun kesiagaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologis yang sering berulang di daratan Sumatera. Terbukti penanganan tanggap darurat bencana ini sangat lambat, minim anggaran penanggulangan bencana, dan bantuan sangat terbatas.

Dalam Perayaan Hari Gerakan Perempuan yang diselenggarakan oleh Konsorsium PERMAMPU secara hybrid di 22 Desember 2025, laporan dari 3 anggota yang wilayahnya terdampak banjir dan longsor mencatat ada 13 kabupaten/kota dan 31 desa dampingan dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sebanyak 1.385 dampingan anggota PERMAMPU menjadi korban terdampak langsung dari banjir dan longsor yang terdiri dari 733 perempuan dewasa, 134 perempuan lansia dan 518 anak-anak.

PERMAMPU juga mencatat bahwa per 22 Desember 2025, ada 7 anggota dampingan yang meninggal; dan ada 1 ibu hamil yang sedang menunggu kelahiran bayinya serta 2 ibu menyusui. Perempuan dan kelompok marginal yang merupakan petani, usaha mikro, maupun usaha jasa mengalami dampak yang lebih khas dibandingkan laki-laki dan yang datang dari klas berbeda. Hati mereka hancur, mereka mengalami trauma yang belum pulih sampai sekarang.

Cerita Pilu Dampingan dan Personil Lembaga

Dalam perayaan tersebut, Konsorsium PERMAMPU mendengar berbagai cerita pilu seperti disampaikan oleh dampingan bahkan personil lembaga dalam sesi ‘personal story’(cerita pribadi perempuan).

• (Ibu Nilawati – Anggota CU, Desa Muara Batu, Aceh Utara)
“Evakuasi korban meninggal tidak segera dilakukan, kami memasak dengan air lumpur berwarna hitam….Pemerintah seolah tidak perduli”

Tepat pukul empat pagi, banjir datang tiba-tiba, disusul orang-orang dari luar rumah yang berteriak, “Banjir, banjir!” Saat saya keluar, air sudah naik dengan cepat. Saya dan keluarga tidak sempat menyelamatkan apa pun, semuanya telah terbawa arus.

Untuk menyelamatkan diri, kami naik ke atas atap rumah. Di sana kami duduk berjam-jam, tubuh basah diguyur hujan, menahan lapar dan ketakutan. Dari atas atap, desa kami tampak seperti lautan.

Saat itu kami mengira banjir hanya terjadi di desa kami. Namun ternyata wilayah Muara Batu juga telah terendam, rumah-rumah sudah terbawa air. Selama beberapa hari kami menahan lapar. Ironisnya, tidak ada bantuan dari pemerintah yang datang kepada para korban banjir. Bahkan korban yang meninggal dunia akibat terseret banjir pun tidak segera dievakuasi.

Di desa tetangga, Balu Raya, tercatat 27 orang meninggal dunia. Kondisi ini membuat kami merasa sangat miris melihat sikap pemerintah yang seolah tidak peduli terhadap penderitaan korban banjir. Di tengah situasi seperti ini, kami bersyukur memiliki Kepala Desa yang bijak. Di saat kelaparan melanda, beliau memerintahkan warga untuk memanfaatkan bahan makanan yang tersedia di salah satu kedai agar kami bisa bertahan hidup.

Pada hari ketiga, banjir mulai surut, namun persoalannya belum selesai. Air bersih tidak tersedia, sehingga kami tidak memiliki pilihan selain memasak menggunakan air lumpur berwarna hitam. Dalam kondisi serba terbatas, kami tidak bisa berbuat banyak selain bertahan hidup dengan segala keterpaksaan. Sampai hari ini nasib kami belum jelas, trauma masih menyelimuti hati kami, berita kemungkinan banjir susulan, masih menghantui pikiran kami..

Ibu N. Hutagalung – Anggota CU, Tapanuli Tengah)

Segalanya Lenyap Dalam Satu Hari,
Abang Ipar Yang Disabilitas Terserseret Banjir…
“Peristiwa paling menakutkan dalam hidup saya terjadi. Saya tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata bagaimana banjir itu datang, rasanya seperti truk besar melaju kencang dan membombardir desa kami. Air bah turun dari desa atas ke bawah dengan kekuatan yang tidak pernah kami bayangkan. Saat saya sempat mengintip ke arah rumah, semuanya sudah hancur. Tidak ada lagi yang tersisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *