Palembang, Poskita.id- Kehadiran Ibu Kota Negara diyakini dapat mendorong pemerataan pembangunan ekonomi dan peningkatan perdagangan ke daerah lain minimal 50 persen, membangkitkan gairah pelaku usaha di daerah, dan reformasi struktural, termasuk penerapan Environmental Social dan Governance (ESG) guna mewujudkan ekonomi hijau.
Pasalnya, IKN akan berperan menjadi sebuah superhub. Akan ada 6 kluster ekonomi yang terbagi menjadi: Klaster Industri Teknologi Bersih, Klaster Farmasi Terintegrasi, Klaster Industri Pertanian Berkelanjutan, Klaster Ekowisata dan Wisata Kesehatan,Klaster Bahan Kimia dan Produk Turunan Kimia, Klaster Energi Rendah Karbon.
Selain itu, akan hadir pula 2 klaster pendukung, yaitu: Klaster Pendidikan Abad ke-21 dan Smart City dan Pusat Industri 4.0
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalsel Bimo Epyanto dalam paparannya mengenai outlook (pandangan) perekonomian Kalsel menyebutkan, semakin masifnya pembangunan IKN akan berdampak pada peningkatan berbagai aktivitas ekonomi di Kalsel, salah satu merupakan gerbang IKN. ”Kebutuhan IKN, khususnya bahan pangan dan logistik, bisa dimanfaatkan oleh Kalsel. Apalagi di bidang pangan, Kalsel dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Kalimantan,” katanya.
Menurutnya, adanya pembangunan IKN diprediksi perekonomian Kalsel pada 2024 tumbuh positif meskipun kondisi ekonomi global masih diliputi faktor ketidakpastian yang tinggi. Momentum positif dan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut harus tetap dijaga. ”Kami perkirakan ekonomi Kalsel di tahun 2024 masih tumbuh positif dalam kisaran 4,0-4,8 persen dan inflasi kami perkirakan akan melandai dan berada pada kisaran yang lebih rendah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen,” ungkapnya.
Dikatakan, kunci utama untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dan berkelanjutan di Kalsel adalah percepatan transformasi ekonomi. Proses transformasi ekonomi utamanya bisa dilakukan melalui hilirisasi produk batubara dan kelapa sawit. Ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan juga memperbaiki kinerja ekspor Kalsel.
Pada Oktober 2023, inflasi di Kalsel tercatat sebesar 2,65 persen secara tahunan. Ini jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Kalsel pada Oktober 2022 yang mencapai 7,25 persen secara tahunan. Dengan perkembangan itu, inflasi Kalsel pada 2023 diperkirakan akan kembali ke sasaran 3 persen plus minus 1 persen. ”Tentu saja terobosan ini harus didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan infrastruktur, dan insentif bagi investasi,” ujarnya.
Plt Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel Suparmi mengatakan, kehadiran IKN mampu mendorong perekonomian sepanjang 2023. Ia mencontohkan, pertumbuhan ekonomi yang positif. Hingga triwulan III-2023, perekonomian Kalsel tumbuh sebesar 4,57 persen secara tahunan.







