Dijabarkan Tubiska, selain jadi asisten rumah tangga, ada juga yang bekerja sebagai perawat, yang bekerja sebagai pegawai perusahaan dan perawat atau tenaga kesehatan. Disinggung terkait kontrak kerja, Tubiska menjelaskan, hal tersebut tergantung dari permintaan tempat bekerja PMI masing-masing. Ada yang satu tahun ada juga yang sampai tiga tahun, tergantung masa kontrak kerja.
“Untuk tahun ini tidak bisa diprediksi berapa banyak warga Lahat yang ingin menjadi pekerja migran. Kita hanya sebatas lakukan pemriksanan administrasi, agar mengetahui identitas CPMI, jika terjadi hal tak diinginkan,” sampainya.
Sementara, Edison, warga Kota Lahat menuturkan, dirinya berminat menjadi pekerja migran. Karena untuk di Kabupaten Lahat sudah sangat sulit mencari kerja. Walaupun perusahaan tambang, sangat sulit untuk diterima, harus masyarakat Ring 1 perusahaan. Sedangkan untuk berkebun, dirinya terbentur tidak memiliki lahan.
“Lapangan kerja sangat minim di Lahat, sedangkan setiap tahun lulusan SMA dan perguruan tinggi jumlahnya pasti bertambah. Pekerja migran jadi peluang agar bisa menghidupi keluarga,” tuturnya.







