Manfaatkan Cagar Budaya untuk Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

News, PALEMBANG, Ragam888 Dilihat

Palembang, PosKita.id – Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bekerjasama dengan Universitas Terbuka (UT) Palembang menggelar webinar Menggali Potensi Kearipan Lokal dan Penyelamatan Cagar Budaya Menuju Indonesia Maju Tahun 2045, Kamis (11/2).

Acara yang dipusatkan di kampus UT Palembang itu dibuka Gubernur Sumsel H Herman Deru diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs H Edward Chandra MH. Selain itu sebelum acara dimulai dilakukan MoU antara UT Palembang dan Forwida. Acara dipandu oleh Dr  L R Retno Susanti MHum.

Menurut Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama Raden Muhammad (RM) Fauwaz Diradja SH MKn saat berbicara sebagai narasumber melihat upaya merevitalisasi bangunan bersejarah yang berada di jantung pusat Kota Palembang itu bakal mampu mendongkrak (PAD), baik dari sektor kunjungan pariwisata, penjualan hasil cendera mata kebudayaan, kuliner. Termasuk meningkatkan kesejahteraan pecinta budaya di Palembang.

“Terlebih, sebagai akibat pelestarian warisan budaya di Palembang yang salah satunya BKB antara lain terbentuk karakter masyarakat yang baik dan berdaya guna serta mencintai dan melestarikan budaya, timbul rasa cinta tanah air dan bela negara, karena meyakini bahwa sebagai generasi sekarang harus meneruskan perjuangan leluhurnya yang selalu berjuang dalam membela kepentingan negara. Serta terawatnya benda-benda peninggalan leluhur dan memahami arti peninggalan leluhur yang akan bermanfaat bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan tetap melestarikan kearifan lokal,” kata SMB IV.

Selain BKB urai SMB IV yang kesehariannya berprofesi sebagai notaris ini, warisan budaya lainnya yang punya wujud fisik atau tangible antara lain Masjid Agung, Bukit Seguntang, Rumah Limas, Prasasti-prasasti seperti Talang Tuo, Telaga Batu Kedukan Bukit, Makam-Makam dan ukiran kayu Palembang.
“Sementara warisan budaya yang tidak berbentuk, non material atau intangible di antaranya Bahasa Palembang, syair, pembuatan songket, upacara tradisi, seni tari dan tulisan Arab Melayu. Warisan-warisan budaya ini juga perlu kita lestarikan, dengan menghidupkan budaya tulis dan baca Arab Melayu sebagai simbol Melayu Palembang, atau juga menjadikan Bahasa Palembang muatan lokal di Kota Palembang,” katanya.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr Restu Gunawan Mhum mengatakan, kedepan perlu ada perubahan paradigma kebudayaan yaitu kebudayaan adalah investasi, kebudayaan adalah kesenian dan kesenian bagian dari kebudayaan , kebudayaan adalah masa lalu, masa kini dan masa depan dan (offensif) menyerang.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi mengajak untuk bersama-sama memajukan kebudayaan mulai melakukan perlindungan , memanfaatan hingga pengembangan menjadi aset yang berharga dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dr Dadang Hikmah Purnama MHum selaku Ketua Program Studi S2 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya (Unsri),mengatakan, dalam pengembangan kearipan lokal dalam pembangunan berkelanjutan perlu adanya pembangunan yang partisipatif, universal, emansipatif, dan menjaga keharmonisan lingkungan-sosial-ekonomi, dinamis dan fleksibel dengan situasi global.

“Setiap daerah memiliki kesempatan untuk dapat membangun menurut karakteristik lingkungan-sosial-ekonomi dalam ruang kultural masing-masing,” katanya.

Sinergi kearifan lokal dan nilai-nilai modernisasi yang mendorong kepada pembangunan berkelanjutan dengan saling menghormati dan saling mengakui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *