IGD di Daerah: Ketika SOP Bertabrakan dengan Kenyataan

– Kesiapan ambulans yang belum menjadi sistem siaga penuh 24 jam.

– Beban kerja IGD yang tinggi tanpa dukungan sistem pendukung memadai.

 

Akibatnya, keluarga pasien kerap ikut “turun tangan”—mengurus surat, mencari kendaraan, bahkan menekan pihak rumah sakit agar bertindak lebih cepat. Dalam kondisi emosional, gesekan pun mudah terjadi.

 

Ketika Publik Marah, Sistem Seharusnya Berkaca

Viralnya video kericuhan IGD RSUD Lahat memicu kemarahan publik. Namun kemarahan itu seharusnya tidak berhenti pada saling menyalahkan antara keluarga pasien dan tenaga kesehatan.

 

Yang lebih penting adalah evaluasi menyeluruh terhadap sistem:

– Apakah IGD benar-benar diberi kewenangan penuh untuk bertindak tanpa hambatan administratif?

– Apakah rumah sakit daerah memiliki sistem rujukan darurat yang siap pakai, bukan sekadar prosedur tertulis?

– Apakah pemerintah daerah secara serius memastikan ketersediaan ambulans dan SDM sebagai layanan vital, bukan sekadar fasilitas pelengkap?

 

Tanpa evaluasi struktural, peristiwa serupa berpotensi terulang—mungkin dengan nama korban yang berbeda, di rumah sakit yang berbeda.

 

Faiza dan Cermin Pelayanan Kesehatan Daerah

Keluarga Faiza memilih ikhlas. Mereka tidak mengumbar tuntutan. Namun keikhlasan keluarga tidak boleh menjadi alasan bagi sistem untuk berhenti bertanya dan berbenah.

 

Faiza adalah wajah dari banyak pasien daerah yang berada di persimpangan antara harapan dan keterbatasan layanan. Ia bukan sekadar korban kecelakaan, melainkan simbol dari kerapuhan sistem kegawatdaruratan ketika diuji oleh waktu.

 

IGD seharusnya menjadi ruang paling aman. Ketika ruang itu justru menjadi tempat ketegangan dan kegaduhan, maka yang perlu dibenahi bukan hanya sikap individu, melainkan arsitektur sistem pelayanan itu sendiri.

 

Pertanyaan akhirnya bukan lagi tentang siapa yang salah, melainkan: apakah sistem IGD dan rujukan di daerah sudah benar-benar berpihak pada keselamatan pasien—atau masih terjebak pada prosedur yang melambatkan penyelamatan?

 

Selama pertanyaan itu belum dijawab dengan perubahan nyata, kisah seperti Faiza akan terus berulang—dan selalu terlambat untuk disesali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *