Deretan papan bunga yang berjejer di depan RSUD Lahat pasca insiden baku hantam menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar ucapan duka. Ia hadir sebagai kritik simbolik atas kekerasan yang menimpa perawat, sekaligus cermin rapuhnya sistem pelayanan kesehatan dalam merespons situasi darurat.
Ucapan belasungkawa memang penting sebagai ekspresi empati. Namun dalam konteks ini, papan bunga justru menegaskan bahwa persoalan tidak berhenti pada luapan emosi individu atau konflik spontan, melainkan pada sistem pelayanan yang rentan memicu ketegangan.
Ketika respons Unit Gawat Darurat (UGD) dipersoalkan hingga berujung konflik fisik, hal itu mengindikasikan adanya celah serius dalam tata kelola layanan, standar operasional prosedur, serta manajemen krisis rumah sakit.
Sebagian papan bunga memuat tulisan turut berduka atas tindakan kekerasan terhadap perawat RSUD Lahat. Pesan ini dapat dibaca sebagai bentuk empati sekaligus penegasan sikap moral menolak kekerasan di lingkungan pelayanan kesehatan.
Namun di sisi lain, ia juga memunculkan pertanyaan kebijakan yang lebih mendasar: mengapa sistem pelayanan memungkinkan situasi darurat berkembang menjadi konflik fisik?
Keberadaan papan bunga dari organisasi profesi mencerminkan solidaritas internal tenaga kesehatan—sebuah sikap yang sah dan manusiawi. Namun solidaritas tersebut seharusnya berjalan seiring dengan kebijakan yang melindungi pasien secara seimbang. Perlindungan martabat tenaga kesehatan tidak boleh berdiri di atas pengabaian hak pasien untuk memperoleh pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi.







