Lahat, Poskita.id – Kontroversi buruknya pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat, Sumatera Selatan, kini mencapai titik krisis. Bukan hanya soal dugaan kelalaian medis yang berujung penderitaan pasien, tetapi juga sikap manajemen rumah sakit yang dinilai semakin menjauh dari rasa empati dan tanggung jawab publik.
Alih-alih melakukan evaluasi terbuka dan introspeksi menyeluruh, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Lahat, dr Dina Ekawati, Sp.PA, justru melangkah ke arah yang menuai kecaman luas: melaporkan keluarga pasien Faiza Az Zahra (Rara) ke Polres Lahat dengan tuduhan pengeroyokan.
Langkah hukum tersebut sontak memantik reaksi keras masyarakat. Banyak pihak menilai, pelaporan itu bukan solusi, melainkan bentuk kriminalisasi terhadap keluarga pasien yang sedang berduka dan menuntut keadilan.
Protes Berujung Laporan Polisi
Keluarga Rara dilaporkan setelah terjadi insiden protes di lingkungan RSUD Lahat. Protes itu muncul sebagai reaksi atas dugaan kelalaian dan lambannya penanganan medis yang dialami Rara pascakecelakaan.
Dalam konferensi pers, Plt Direktur RSUD Lahat menyampaikan pernyataan yang secara implisit menyebut bahwa tindakan tenaga medis dan staf rumah sakit telah sesuai prosedur. Pernyataan ini justru memperdalam kekecewaan publik.
Di mata masyarakat Lahat, sikap tersebut dinilai mencerminkan kepemimpinan yang defensif, lebih sibuk melindungi internal ketimbang mendengarkan suara publik. Tidak sedikit warga menilai pernyataan itu sebagai bentuk pembenaran diri atas sistem pelayanan yang selama ini memang dikeluhkan.
“Ucapan Direktur RSUD tidak mencerminkan jiwa pemimpin yang jujur. Terlihat lebih mementingkan ego dan melindungi anak buahnya, padahal ratusan bahkan ribuan warga Lahat sudah lama mengeluhkan buruknya pelayanan di RSUD,” tulis salah satu warganet.
Kasus Rara: Awal Terbukanya Borok Lama
Kemarahan publik bermula dari kasus tragis yang menimpa Faiza Az Zahra (Rara), warga Desa Payo, Kecamatan Merapi Barat. Pada Minggu (21/05/2025), Rara yang menjadi korban kecelakaan harus menunggu hingga sembilan jam di RSUD Lahat sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit di Palembang.
Beberapa poin krusial yang disorot keluarga dan masyarakat antara lain:
– Lambannya Diagnosa: RSUD Lahat dinilai sangat lambat dalam menegakkan diagnosa dan memberikan tindakan medis yang bersifat mendesak.
– Keterlambatan Rujukan: Penundaan rujukan selama kurang lebih sembilan jam disebut sebagai kelalaian fatal yang berpotensi memperburuk kondisi pasien.
– Kasus Rara diyakini hanya puncak gunung es dari persoalan pelayanan kesehatan di RSUD Lahat yang telah lama menjadi keluhan masyarakat.
Gelombang Kekecewaan Publik
Media sosial dan berbagai platform publik dibanjiri ratusan hingga ribuan komentar warga. Nada yang muncul hampir seragam: pelayanan RSUD Lahat dianggap buruk dan jauh dari standar pelayanan prima.
Bukannya meredam amarah publik, langkah direksi yang memilih jalur hukum terhadap keluarga pasien justru dipersepsikan sebagai sikap “besar kepala” dan minim itikad untuk berbenah. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan kesehatan daerah pun semakin tergerus.
Desakan kepada Bupati Lahat
Atas polemik yang kian membesar, masyarakat mendesak Bupati Lahat untuk turun tangan secara tegas. Beberapa tuntutan yang mengemuka antara lain:
Pencopotan Direktur RSUD Lahat
Sikap pimpinan RSUD yang dinilai tidak empatik dan defensif dianggap telah mencoreng citra rumah sakit serta merusak kepercayaan publik.
Pembenahan Manajemen Secara Menyeluruh
Diperlukan evaluasi total terhadap sistem pelayanan, disiplin tenaga medis, tata kelola rujukan, serta kecepatan penanganan pasien gawat darurat.
Rumah Sakit atau Sumber Amarah?
RSUD Lahat seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan, tempat masyarakat mencari harapan dan keselamatan. Namun, rangkaian peristiwa ini justru menempatkan rumah sakit daerah tersebut sebagai sumber keluh kesah dan kemarahan publik.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah. Keberanian mengambil langkah tegas akan menjadi penentu: apakah kepercayaan publik bisa dipulihkan, atau krisis ini akan terus membesar dan meninggalkan luka sosial yang lebih dalam.











